Eklin Amtor de Fretes, seorang pemuda Maluku penyintas konflik Ambon tahun 1999. Saat itu, usianya baru 7 tahun. Namun, ia dan keluarganya terpaksa harus meninggalkan tempat tinggalnya dan mengungsi menuju lingkungan yang lebih aman.
Sebelum konflik, Eklin tinggal di wilayah yang mayoritas warganya beragama Islam. Sementara itu, ia adalah pemeluk agama Kristen Protestan. Meski demikian, keluarga Eklin tidak pernah bertengkar dengan tetangga. Mereka hidup rukun dan damai, hingga terbangun persaudaraan antaragama.
Penolakan Bukan Berarti Perjuangan Terhenti
Eklin tidak dapat menyembunyikan raut kesedihan ketika mendapatkan penolakan. Meskipun sebenarnya ia sudah bisa menduga apa yang akan didapatkan, tetapi ia bukan sosok yang mudah menyerah. Kesedihan dan kekecewaan yang ia dapatkan pun hanya berlaku sementara. Ia cukup bijak membaca situasi yang terjadi.
“Saya ditolak ketika hendak mendongeng,” kenang Eklin, panggilan akrabnya. Ia bilang salah satu komunitas suku di hutan Seram, khawatir kehadiran Eklin akan membawa misi kristenisasi sebab ia adalah seorang calon pendeta.
Tidak mudah menyerah. Eklin memegang teguh tiga kata ini, sehingga pada hari berikutnya ia bergerak menuju suku lain. Misinya tetap sama, yakni mendongeng perdamaian, kasih sayang, dan toleransi.
Eklin mencoba berdamai dengan keadaan. Sebagai penyintas konflik, ia berusaha menyikapi peristiwa tersebut secara bijaksana. Ia terus belajar tentang perdamaian, bergaul dengan teman lintas iman, dan memiliki pikiran terbuka untuk menerima keragaman.
Eklin menyadari betul bagaimana pemikiran yang telah memengaruhi pola pikir masyarakat Maluku, tidak terkecuali anak-anak dan generasi muda. Pemuda yang selalu membawa boneka ini, sadar bahwa ia harus bergerak, sehingga menghentikan arus cerita sepihak agar tidak makin mengalir bebas dan liar.
Tentang Segregasi, Cukup Sampai di Sini
Dalam menjalankan misi mulia tersebut, Eklin tidak melangkah sendiri. Satukan Gerak, Terus Berdampak. Ia bersama dengan lima trainer Living Values Education (LVE) nasional, sebuah pelatihan yang bertujuan untuk membangkitkan kesadaran akan pentingnya persatuan di tengah perbedaan. Nama Eklin sudah terdaftar dalam pelatihan ini sejak 2016.
Berbekal pengalaman tersebut, Eklin menginisiasi kegiatan Youth Interfaith Peace Camp (YIPC) di Ambon pada September 2017. Pada bulan Oktober 2022 diketahui bahwa YIPC telah diikuti oleh 90 pemuda lintas iman di Maluku. Disebut lintas iman, sebab kegiatan ini diikuti oleh peserta yang beragama Islam, Kristen, Katolik, hingga kepercayaan suku Nuaulu.
Dalam forum ini para peserta akan saling berdiskusi, berbagi tentang nilai-nilai perdamaian, dan menghidupkan perdamaian lewat kreativitas dan keseharian hidup, sehingga menumbuhkan toleransi antaragama.
Setelah membuat YIPC, Eklin berpikir bahwa kegiatan pendidikan perdamaian juga dibutuhkan anak-anak kecil di Maluku sebab dengan adanya segregasi wilayah di Maluku, sering kali orang tua menceritakan cerita konflik pada tahun 1999. Oleh sebab itu, Eklin berusaha melawan cerita konflik yang bisa membawa segregasi itu dengan dongeng yang dinamakan Dongeng Damai.
Pada 2019, pemuda kelahiran Masohi, Maluku Tengah ini membuat program baru, yaitu Belajar di Rumah Dongeng Damai yang di dalamnya berisikan pelajaran Bahasa Inggris, Bahasa Jerman, dan kelas seni. Hal ini rutin dilakukan untuk anak-anak di daerah Maluku agar mereka dapat mendongeng dengan berbagai bahasa sambil melakukan seni.
Harapan Eklin dan tim adalah agar dongeng bisa tetap hidup untuk menjadi media pendidikan yang menghidupkan nilai dan merawat perdamaian di Maluku. Meskipun ia seorang pendeta, Eklin tetap akan melanjutkan program lintas iman ini untuk merawat perdamaian di Maluku.
Eklin menjadi anak muda yang berhasil mengedukasi anak-anak dan masyarakat tentang pentingnya toleransi antaragama melalui Rumah Dongeng Damai. Berkat usaha Eklin Amtor de Fretes dan tim, pada 2020, ia berhasil menjadi salah seorang penerima apresiasi SATU Indonesia Awards Provinsi Maluku bidang pendidikan dengan judul kegiatan Pendongeng Kreatif untuk Anak Maluku. (*)
Sumber:
- Akun Instagram @kak_eklin
- Akun Instagram @kemenpora
- E-Booklet 15th SIA 2024
- Intani, Dwi Wahyu. 2023. Eklin Amtor de Fretes, Pendongeng Perdamaian Pasca-Konflik 1999. https://www.idntimes.com/life/inspiration/eklin-amtor-de-fretes-c1c2-01-h8zhq-b0gghy. Diakses pada 20 Oktober 2025.
#APA2025-KSB




Posting Komentar